PRESERVASI PERPUSTAKAAN DIGITAL (Kelebihan Dan Kekurangan Cara Preseravasi Digital)

A.  Pendahuluan

Dalam beberapa tahun terakhir beraneka ragam sumberdaya informasi terkomputerisasi banyak dikembangkan oleh penerbit dan perpustakaan. Berbagai informasi pape-based yang selama ini merupakan primadona perpustakaan tradisional, sekarang telah banyak yang tersedia dalam bentuk elektronik, bahkan sebagian dari produk informasi yang dihasilkan, ada yang hanya tersedia dalam bentuk elektronik. Perkembangan ini juga telah didukung oleh perkembangan sistem temu kembali dan akses, hal ini menjadi salah satu alternatif pilihan dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat akan informasi.

Pertumbuhan yang pesat dalam produksi informasi berbasis elektronik telah melahirkan ungkapan digital library. Perpustakaan digital adalah suatu lingkungan perpustakaan di mana berbagai objek informasi (dokumen, images, suara dan video-clips) disimpan dan diakses dalam bentuk elektronik. Objek tersebut terekam dalam berbagai jenis media komputer termasuk CD. Bahan jenis ini sebagian besar tersedia untuk diakses melalui internet atau dimuat dalam komputer stand-alone atau jaringan lokal[1].

Perkembangan teknologi mampu memampatkan ukuran data atau informasi untuk kemudian diurai kembali setelah sampai di tujuan, membuat transfer informasi dan data dapat menjadi lebih cepat. Selain mempercepat proses dalam aktivitas sehari-hari, format data digital juga mempermudah aktivitas pelayanan kepada masyarakat.

Namun dengan media tempat menyimpan informasi digital selalu mengalami degradasi dan bisa rusak tanpa pemberitahuan sama sekali. Perangkat keras dan lunak seringkali ketinggalan zaman tanpa kita sadari. Karena itu perlu diperhatikan manajamen daur hidup (lifecycle management) koleksi digital yang disimpan. Untuk itu diperlukan pelestarian terhadap koleksi digital ini.

Pelestarian teknologi, migrasi, emulasi, refresing dan arkeologi data adalah alternatif yang bisa diambil oleh perpustakaan guna melestarikan koleksi digitalnya. Namun demikian perlu perencanaan yang matang dan mengetahui segala kelebihan dan kekurangan dari cara-cara tersebut sehingga dapat disesuaikan dengan keadaan perpustakaan tersebut.

B.  Preservasi Perpustakaan Digital

Preservasi perpustakaan digital adalah proses memilih, mengadakan, mengolah, melayankan, serta memelihara dokumen atau data digital sehingga dapat dimanfaatkan dalam waktu yang lama secara internal oleh publik sesuai dengan kaidah, norma dan kode etik yang berlaku.[2] Preservasi adalah semua kegiatan yang bertujuan memperpanjang umur bahan pustaka dan informasi yang ada di dalamnya.[3] Selain itu definisi lain juga menyebutkan preservasi digital adalah upaya memastikan agar materi digital tidak bergantung pada kerusakan dan perubahan teknologi. Secara umum preservasi digital mencakup berbagai bentuk kegiatan, mulai dari  kegiatan sederhana menciptakan tiruan (replika atau copy) dari sebuah materi digital untuk disimpan, sampai kegiatan transformasi digital yang cenderung rumit.[4]

Kegiatan mentransfer informasi tercetak ke dalam bentuk digital seolah menjadi kesibukan utama perpustakaan besar Indonesia pada dasawarsa terakhir ini. Entah berapa ratus ribu bahkan jutaan gigabyte dokumen yang telah dijadikan digital di beberapa perpustakaan besar Indonesia. Tidak itu saja, mereka membuat pangkalan data referensi seperti katalog online, indeks subyek, dan sarana pencari informasi digital lainnya. Belum lagi jurnal elektronik, peta digital, data, atau dokumen kelabu (dokumen pemerintah yang tidak diterbitkan untuk umum) yang mereka koleksi dalam bentuk digital.

Dokumen digital rentan kerusakan dalam arti tidak dapat terbaca atau tak bisa diakses lagi. Barangkali keadaan ini bakal berubah menjadi bom waktu yang mengancam kelangsungan hidup perpustakaan digital.

Masalah kedua adalah perkembangan peranti keras diikuti peranti lunak yang berubah versi dengan cepatnya. Kemudian versi lama tidak bisa membaca informasi pada versi baru. Dunia digital Indonesia bergeming dengan ancaman tersebut dan kegiatan digitasi sepertinya mengalir begitu saja. Memang, selain kendala dalam hal mesin, dalam kasus tertentu dokumen digital terasa lebih mahal jika kita harus mencetaknya.

Preservasi data atau dokumen digital menjadi hal penting karena kondisi berikut :

  1. akumulasi data yang tak terkendali
  2. kerusakan data tanpa sengaja
  3. pengubahan data tanpa hak
  4. kelangkaan metadata dan sistem dokumentasi
  5. bentuk data elektronik yang tidak dapat dipreservasi
  6. kelangkaan mekanisme untuk preservasi

Di dunia tradisional banyak obyek akan survive lama sekali meski ditelantarkan. Obyek digital hanya akan survive bila orang membuat rencana dan dengan sistematis memikirkan kelangsungan hidup obyek tersebut secara berkelanjutan. Masalah-masalah sekitar warisan digital sudah menjadi begitu kompleks sehingga sedang dilakukan berbagai upaya oleh kalangan perguruan tinggi, institusi, dan bisnis, untuk mengembangkan cara untuk melestarikan data yang diciptakan dalam bentuk digital. Tujuannya: agar data tersebut masih dapat dipahami puluhan dan ratusan tahun kedepan.

Di masa mendatang para pencari informasi minimal memerlukan metode-metode untuk mengekstraksi informasi dari media penyimpan yang sekarang sudah ada, dan yang kelak akan ada. Sarana macam ini pada suatu saat pasti tidak tersedia lagi atau tidak dapat dipakai lagi. Kapan misalnya, anda terakhir melihat suatu floppy disk drive? Suatu organisasi atau lembaga yang memperhatikan preservasi koleksi digitalnya akan selalu memindahkan informasi dari sistem lama ke yang lebih baru secara teratur.

 

C. Mekanisme Preservasi Digital

Preservasi digital merupakan kegiatan yang terencana dan terkelola untuk memastikan agar sebuah obyek informasi dalam keadaan baik dan dalam waktu lama (longevity) ada 2 hal yang harus diperhatikan : 1. Media penampungnya harus tahan lama (CD-Rom, tape, Disk), 2. Format isi atau informasi juga harus tahan lama, dalam arti terus dapat dibaca  (PDF, TIFF, JPEG)[5]. Preservasi digital  memerlukan praktik dan paradigma baru yang berbeda dengan preservasi obyek non digital atau buku, dimana preservasi buku  seringkali dilakukan pada satu titik waktu tertentu dalam siklus hidup buku, sedangkan preservasi digital lebih bersifat berjaga-jaga(pre-emptive) yang dilakukan  dari sejak informasi disimpan, selama informasi masih tersimpan dan dalam proses secara terus menerus.

Lavoie dan Dempsey (2004) dalam Putu Laxman Pendit (2009 : 110) merumuskan beberapa mekanisme dalam preservasi digital sebagai berikut[6] :

  1. Presevasi digital dilakukan secara terus menerus : berbeda dengan prservasi pada umumnya yang mana kegiatan presevasi dilakukan pada saat informasi akan mengalami kerusakan atau kepunahan. Sedangkan untuk preservasi digital harus dilakukan secara terus menerus selama obyek informasi masih tersimpan.
  2. Preservasi digital dilakukan secara Konsensus, preservasi diperlukan keputusan bersama dan kepastian tentang apa dan bagaimana preservasi  terhadap obyek dilakukan.
  3. Berbagi tanggungjawab, dalam dunia digital harus ada tanggungjawan dari produsen, setidaknya dalam menentukan integritas obyek tersebut.
  4. Preservasi digital dilakukan dengan melalui seleksi, dimana sebelum dilakukan preservasi perlu diadakan seleksi secara bersama terhadap obyek mana yang perlu dan penting untuk dilakukan prservasi dan mana yang sekiranya tidak perlu dan penting dipreservasi.
  5. Dapat didanai, proses preservasi digital harus didukung dengan penyediaan dana yang cukup, maka perlu ada cara yang baik dalam memprediksi atau merencanakan terkait dengan biaya preservasi yang dibutuhkan.
  6. Preservasi digital merupakan kegiatan koperatif, ini merupakan bagian kegiatan  kerjasama antar lembaga, lintas daerah, dan bahkan lintas negara.
  7. 7.      Memerlukan legalitas, obyek digital sering menimbulkan  perdebatan tentang kepentingan individual dan kepentingan umum yang lebih besar, maka perlu dipersiapkan terkait dengan Hak Cipta, dalam hal ini perlu negosiasi antara pihak perpustakaan dengan penulis, sehingga kegiatan akan dapat dilakukan secara legal.
  8. Berpencar, aktivitas preservasi digital dapat dilakukan secara terpencar terutama terkait dengan tanggungjawab dan kerjasama lembaga.
  9. Berdampingan, preservasi digital dapat berjalan berdampingan dengan kegiatan yang lainnya.
  10. Terukur dengan benar, preservasi digital yang dilakukan telah memenuhi syarat dan sesuai dengan standar.
  11. Melahirkan bisnis baru, berbeda dengan preservasi non digital, saat ini telah muncul bisnis baru yang melibatkan penjaja (vendor) khusus dibidang preservasi.
  12. Sebagai salah satu pilihan, preservasi digital biasanya menjadi salah satu pilihan dalam kegiatan preservasi informasi.
  13. Kepentingan umum, preservasi digital akan menjadikan buku menjadi milik umum dalam arti yang sesungguhnya, terutama jika tersedia lewat internet dan mudah diakses dimana saja.

 

D.      Teknik Preservasi Koleksi Digital

Kerentanan media simpan adalah masalah yang perlu dicermati, walaupun teknologi ini selalu diperbarui. Penelitian terakhir tentang keawetan media magnetik menunjukkan pemakaiannya bisa 10-30 tahun jika ditangani dan disimpan dengan benar. Memang ada teknologi cakram optik yang menjanjikan produk yang tahan sampai 100 tahun, tapi ini masih dalam skala laboratorium dan belum teruji ketangguhannya jika diumbar di alam tropis dengan suhu dan kelembaban yang menjadi ancaman.

Di Indonesia, masalah ini merupakan masalah besar karena ketidakberdayaan dalam bidang finansial. Beberapa langkah pelestarian digital yang bisa diterapkan dengan biaya terjangkau barangkali adalah pengadaan peranti keras yang sesuai dengan spesifikasi disusul dengan prosedur operasi yang benar dan pemeliharaan yang rutin. Intinya, menjaga agar peranti keras dan lunak tetap bisa mengoperasikan data. Jika suatu ketika terjadi perkembangan versi yang tidak dapat dihindari bisa diadakan migrasi, atau memformat data kembali. Tentunya migrasi tanpa membuat skala prioritas, akan menjadi proses yang mahal karena memerlukan waktu dan tenaga yang tidak sedikit.

Untuk menyelamatkan nilai informasi agar dapat dimanfaatkan dalam waktu yang relatif lebih lama lagi dan terhindar dari kerusakan terhadap koleksi digital atau elektronik, ada beberapa cara preservasi digital, antara lain[7]:

  1. Preservasi teknologi (technology preservation) yaitu perawatan secara seksama terhadap semua perangkat keras dan lunak yang dipakai untuk membaca dan menjalankan sebuah materi digital.
  2. Preservasi dengan cara penyegaran atau pembaruan (refreshing) dengan memperhatikan usia media (memindahkan data dari media yang satu ke media yang lain)..
  3. Preservasi  dengan cara melakukan migrasi  dan format  ulang (migration and reformating) merupakan kegiatan mengubah konfigurasi data digital tanpa mengubah kandungan isi intelektualnya.
  4. Preservasi dengan cara emulasi (emulation) yaitu proses “penyegaran” di lingkungan sistem, Artinya secara teoritis dapat dilakukan pembuatan ulang secara berkala terhadap program komputer tertentu agar dapat terus membaca data digital yang terekam dalam berbagai format dari berbagai versi.
  5. Arkeologi, yaitu menyelamatkan isi dokumen yang tersimpan dalam media penyimpanan ataupun perangkat keras dan perangkat lunak yang sudah rusak, sehingga isi dokumen tersebut tetap dapat digunakan
  6. Preservasi dengan cara mengubah data digital menjadi analog, terutama untuk materi digital yang sulit diselamatkan dengan semua cara di atas.[8]

 

E.  Kelebihan dan kekurangan

Usaha penyelamatkan nilai informasi agar informasi dapat dimanfaatkan dalam waktu yang relatif lebih lama lagi dan terhindar dari kerusakan terhadap koleksi digital atau elektronik. Refressing, migrasi, dan emulasi adalah beberapa cara preservasi digital yang bisa menjadi pilihan bagi perpustakaan untuk melestarikan materi digital. Namun demikian, masing-masing metode tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan yang dapat dijadikan pertimbangan masing-masing perpustakaan.

 

1. Pelestarian teknologi

Pelestarian teknologi merupakan tindakan pemeliharaan terhadap hardware (perangkat keras) dan software (perangkat lunak) yang mendukung sumber daya (koleksi) digital. Perkembangan teknologi yang cukup pesat adalah alasan utama dilakukan pelestarian teknologi ini, yang akan mengakibatkan informasi yang terdapat di dalamnya tidak bisa terbaca. Pelestarian teknologi mempunyai tujuan untuk menyimpan objek digital dalam  bentuk format asli, dengan fungsi dan presentasi yang sama, dan juga dengan perangkat keras dan lunak yang digunakan masih dengan keasliannya.

Terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan dari cara ini. Kelebihan yang didapatkan diantaranya pertama[9], dengan meyimpan perangkat keras dan perangkat lunak aslinya, maka tampilannya akan sama dengan dokumen aslinya. Kedua,[10] pelestarian teknologi merupakan solusi pelestarian yang praktis dalam jangka pendek. Ketiga[11], dengan pelestarian teknologi, kebutuhan untuk mengimplementasikan strategi pelestarian lainnya dapat ditunda. Selain kelebihan-kelebihan yang telah disebutkan, strategi ini juga memiliki kelemahan. Karena merupakan strategi dalam jangka pendek maka diperlukan tindak yang berkelanjutan.[12]

 

2. Refreshing

Dibandingkan dengan media penyimpanan manual seperti kertas cetak  yang memiliki masa ketahanan relatif panjang, media penyimpanan digital tidak memiliki nilai ketahanan yang lebih lama. Maka perawatan terhadap koleksi digital dapat dilakukan dengan cara refresing yaitu pemindahan data secara berkala. Pemindahan tersebut misalnya ari CD-ROM ke dalam hard-disk, atau data dalam disket dipindah ke dalam CD-ROM. Strategi refreshing adalah pemindahan koleksi digital dari satu medium ke medium lain yang sejenis ataupun medium yang lebih baru untuk mencegah keusangan teknologi.[13]

Tahapan-tahapan yang dapat dilakukan dalam strategi refreshing ini ada dua yaitu pemilihan media baru sebagai pengganti media yang lama dan pelaksanaan transfer data dari media lama ke media yang baru tersebut. Pada tahap pemilihan media baru, media penyimpanan yang lama perlu untuk dievaluasi terlebih dahulu agar diketahui kelebihan dan kekurangan dari media lama. Dengan dilakukannya evaluasi terhadap media lama tersebut dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan pemilihan media baru sehingga ketika ditentukan media baru sebagai media pengganti, pemilihan tersebut benar-benar efektif dan tidak salah langkah atau salah pilih. Langkah selanjutnya adalah tahap transfer data, yang mana data dipindahkan dari media penyimpanan yang digunakan sebelumnya ke media penyimpanan yang baru.

Tujuan utama dari refresing ini adalah untuk menciptakan koleksi digital yang sifatnya stabil. Kelebihan dari strategi ini adalah mudah diterapkan dan resiko kehilangan data dalam proses pemindahan data sangat kecil[14].

 

3. Migrasi

Migrasi adalah proses penyalinan data digital secara periodik dari media lama ke dalam media yang lebih baru, dengan format yang standard. Migrasi merupakan proses transfer koleksi digital dari konfigurasi perangkat keras dan perangkat lunak tertentu ke dalam konfigurasi lainnya, atau dari satu generasi teknologi komputer ke dalam teknologi komputer yang lebih baru.[15] Chowdhury dan Sudatta Chowdhury dalam Introduction to Digital Libraries, menjelasjan secara lebih lengkap: “Migration is periodic transfer of digital materials from one hardware/ software configuration to another or from one generation of computer to a subsequent generation so as to preserve the integrity of digital objects and to retain the ability of user to retrieve, display and otherwise use them in the face of constantly changing technology. [16]

Definisi tersebut menyatakan bahwa migrasi merupakan proses transfer koleksi digital secara periodik dari konfigurasi perangkat keras dan perangkat lunak tertentu ke dalam konfigurasi lainnya, atau dari satu generasi teknologi komputer ke generasi yang lebih baru dengan tujuan untuk melestarikan objek digital agar para pengguna dapat menemukan kembali, menampilkan dan menggunakan objek digital tersebut seiring dengan perubahan teknologi yang terjadi. Migrasi memuat perubahan konfigurasi yang mendasari data, tanpa mengubah isi intelektualnya. Strategi migrasi ini dilakukan agar koleksi digital yang tersimpan dapat terus diakses oleh penggunanya.

Strategi migrasi mencakup transfer data antar media penyimpanan eksternal (contohnya dari disket ke CD atau DVD), media penyimpanan internal (contohnya dari hardisk ke hardisk yang dapat diakses secara online), produk perangkat lunak (melaksanakan up date terhadap perangkat lunak yang digunakan), serta fomat penyimpanan (mengikuti format standar yang berlaku).[17]

Strategi migrasi memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan. Beberapa kelebihan strategi migrasi tersebut antara lain pertama, perpustakaan tidak perlu meyimpan aplikasi originalnya. Kedua, memungkinkan manajemen dan perawatan secara aktif. Ketiga, format standar menawarkan akses yang stabil dan berkelanjutan. Keempat, dengan strategi migrasi isi intelektual dari koleksi digital ini dapat dilestarikan. Adapun kelemahan-kelemahan  strategi ini adalah diperlukannya perawatan secara berkelanjutan seiring dengan perkembangan teknologi sehingga menghabiskan banyak biaya.

4. Emulasi

Emulasi merupakan proses menciptakan kembali lingkungan perangkat keras dan perangkat lunak yang dibutuhkan untuk mengakses sumber informasi. Menurut Lazinger, emulasi adalah pengembangan perangkat lunak, yang dapat mendukung fungsi dari perangkat keras dan perangkat lunak yang sudah usang. Dalam hal ini, dokumen disimpan dalam format aslinya, bersama dengan perangkat lunak original yang digunakan dalam penciptaan dokumen tersebut, dan perangkat lunak tambahan diciptakan untuk menirukan perangkat yang sudah usang di masa yang akan datang. Proses perawatan dalam strategi Emulasi adalah mengkombinasikan perangkat keras dan perangkat lunak untuk mereproduksi seluruh karakteristik komputer yang penting, sehingga dapat menampilkan program atau media yang sudah usang ke dalam lingkungan yang baru. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa strategi emulasi juga mencakup penciptaan program komputer yang dapat membaca data yang diciptakan dengan menggunakan perangkat lunak yang sudah usang. Dalam strategi emulasi dibutuhkan perangkat lunak emulator serta program yang dapat menerjemahkan kode dan instruksi dalam suatu lingkungan komputer. Emulator ini diharapkan mampu menampilkan data yang tersimpan dalam perangkat lunak yang sudah usang sesuai dengan format aslinya.

Seperti pada strategi sebelumnya, strategi emulasi juga memiliki kelebihan dan kelemahan.[18] Kelebihan strategi ini antara lain pertama, menjaga tampilan seperti pada dokumen aslinya. Kedua, merupakan strategi jangka panjang, sehingga tidak perlu campur tangan langsung dari staf perpustakaan. Ketiga, dapat diterapkan secara terpisah untuk seluruh koleksi digital. Sedangkan kelemahan strategi emulasi ini pertama, perangkat lunak emulasi (emulator) membutuhkan biaya yang cukup mahal. Kedua, dalam menciptakan spesifikasi emulator sangat kompleks sehingga dapat menyulitkan staf perpustakaan. Ketiga, informasi yang harus dilestarikan menjadi lebih banyak. Keempat, karena berbentuk perangkat lunak terdapat kemungkinan perangkat lunak tersebut akan mengalami ketertinggalan teknologi.

5. Arkeologi data

Dalam Digital Preservation Management Tutorial, dijelaskan bahwa arkeologi data atau disebut juga arkeologi digital didefinisikan sebagai metode dan prosedur yang dilakukan untuk menyelamatkan isi dokumen yang tersimpan dalam media penyimpanan ataupun perangkat keras dan perangkat lunak yang sudah rusak. Strategi arkeologi data ini merupakan strategi yang mencakup teknik khusus untuk memperbaiki bit stream pada media yang tidak dapat dibaca lagi akibat kerusakan fisiknya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa strategi arkeologi data merupakan usaha untuk menyelamatkan isi dokumen yang tersimpan dalam media penyimpanan yang sudah rusak, sehingga isi dokumen tersebut tetap dapat digunakan. Strategi ini merupakan strategi dengan biaya yang rendah tetapi memiliki resiko yang tinggi, karena dengan hanya memperbaharui media penyimpanannya terdapat kemungkinan data tersebut tidak akan terbaca ketika perpustakaan telah menggunakan teknologi yang baru.

Dalam arkaeologi data, media penyimpanan data terus diperbaharui (strategi refreshing) namun tidak disertai dengan migrasi dan emulasi.

 

6. Mengalihbentukkan ke dalam media analog

Berbeda dengan koleksi dalam bentuk analog yang lebih berusia panjang dan memiliki daya tahan lama, koleksi digital mempuyai kelemahan berupa sifat rapuh dan tidak tahan lama. Untuk mempertahankan koleksi digital agar dapat  diakses oleh pengguna, koleksi digital dapat dialihbentukkan ke dalam media analog. Media tersebut adalah microfilm.

Mikrofilm dipilih karena media ini mempunyai tingkat ketahanan yang tinggi terhadap kerusakan. Strategi mengalihbentuk ke media analog ini dilakukan dengan memanfaatkan COM (Computer Output to Microfilm), yaitu data koleksi digital akan dicetak ke dalam mikrofilm. Strategi ini hanya cocok diterapkan pada koleksi digital dalam format teks seperti buku, jurnal atau sketsa dan tidak cocok untuk diterapkan pada gambar baik berwarna maupun tidak, karena akan banyak informasi yang hilang ketika data-data tersebut bila dialihbentukkan. Selain dialihkan ke dalam bentuk mikrofilm, strategi ini dapat dilakukan dengan membuat printout atau mencetak kembali dokumen yang telah didigitalisasi.

 

F. Penutup

Setelah masalah-masalah dipilah-pilah dan satu persatu dicari solusinya, mungkin hasil paling berarti dari preservasi digital adalah berkolaborasi dengan World Wide Web dan dengan demikian membuka dunia-dunia yang selama ini tersembunyi, tapi penuh informasi bagi sejarawan, ahli genealogi, ilmuwan, pengarang, musikus dan videografer hari ini dan esok.

Tujuan preservasi data/dokumen digital sebenarnya adalah memastikan informasi yang tersimpan dalam media digital tersebut tetap dapat diakses oleh siapapun yang memerlukannya baik di masa kini ataupun di masa yang akan datang.

Karena itu ketika akan melakukan digitalisasi dokumen, hendaknya sudah dipikirkan pula preservasi dokumen yang akan dilakukan. Indonesia dikenal sebagai bangsa yang senang membuat atau membangun sesuatu yang bagus dan menarik akan tetapi tidak pandai merawatnya sehingga akhirnya menjadi rusak.

 

G. Bahan bacaan

  1. Chowdhury, G.G dan Sudatta Chowdhury, Introduction to Digital Librairies, London: Facet Publishing.  Lazinger, 2001.
  2. Firman Ardiansyah, Materi Kuliah Dokumen Digital, Bogor: Program S2 MTIP IPB, 2008.
  3. Mustafa. B, Materi Kuliah Preservasi Dokumen Digital, Bogor: Program S2 MTIP IPB, 2008.
  4. Purwono,  Dasar-dasar Dokumentasi. Jakarta: Universitas Terbuka, 2009.
  5. Putu Laxman Pendit, Perpustakaan Digital:  dari  A sampai Z, Jakarta: Citra Karyakarsa Mandiri, 2009.
  6. Putu Laxman Pendit, Perpustakaan Digital: Kesinambungan & Dinamika, Jakarta: Citra Karyakarsa Mandiri, 2009.
  7. Siregar, A. Ridwan, Perpustakaan Energi Pembangunan Bangsa, Medan: USU Press, 2004.
  8. Stielow, Frederick, A How to do it manual for Archivist and librarian: Building digital archives, description and display, New York: Neal-Schuman Publisher, 2004.
  9. Wendy Smith dalam Purwono, Dasar-dasar Dokumentasi: Pelestarian Dokumen. Jakarta: Universitas Terbuka, 2009.

[1] A.Ridwan Siregar, Perpustakaan Energi Pembangunan Bangsa, (Medan : USU Pres. 2004), hlm.55.

[2] Mustafa. B. Materi Kuliah Preservasi Dokumen Digital,  (Bogor: Program S2 MTIP IPB 2008),

[3] Wendy Smith dalam Purwono, Dasar-dasar Dokumentasi : Pelestarian Dokumen. (Jakarta : Universitas Terbuka, 2009), hlm. 217.

[4] Putu Laxman Pendit, Perpustakaan Digital dari A sampai Z,  (Jakarta : Cita Karyakarsa Mandiri, 2008), hlm. 248

[5] Putu Laxman Pendit, Perpustakaan Digital: Kesinambungan & Dinamika, Jakarta: Citra Karyakarsa Mandiri, 2009, hlm. 114

[6] Ibid hlm.111

[7] Pendit, Putu Laxman.—–

[8] Putu Laxman Pendit,  Perpustakaan Digital dari A sampai Z, (Jakarta : Cita Karyakarsa Mandiri, 2008), hlm. 253.

[9] Sari, Delaya. Pelestarian koleksi……………………………….

[10] Ibid. hlm, 22

[11] Ibid. hlm. 22

[12] Ibid. hlm 22

[13]  Lazinger, 2001; 76.

[14] Delaya Sari,….. Hlm. 23.

[15] Lazinger, …. Hlm. 77

[16]  Chowdhury, G.G dan Sudatta Chowdhury, Introduction to Digital Libraries, (London : Facet Publishing), hal 220.

[17]  Stielow, Frederick. A How to do it manual for Archivist and librarian: Building digital archives, description and display. (New York: Neal-Schuman Publisher, 2004), Hlm. 191

[18] Lazinger, … hlm. 77.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Skip to toolbar